Kamis, 27 November 2025

Melihat Wajahmu

 @da senyumm

Wajah yang pernah muncul di bulan awal pada update statusmu, sebagai sosok yang sudah dikenali,



dua wajah belang ada oleh sisi gelap karena terpaan cahaya hari itu dari sisi yang tidak disadari

Penggorengan sampai pada lompatan gilir sebagaimana biasa pemasakan oleh skill yang masih dibilang seadanya... 

Tiada lain semua itu agar ada teman berdekatan dengan hasil periuk untuk dapat disebut lauk;

Kancah baginya telah lekat bagi setiap penghuni hingga pendatang perindu lembah yang mengitari..
Kawah pun seolah irama dalam caranya menghela nafas, saat membubuh setiap perlambang di atas kanvas... 

Sebuah arena semu telah teruda menunggu terlalu lama hingga menggelembungkan waktu penantian menjadi gelanggang pertunjukkan ketidakpastian pada setiap sudut dan celah rawah;  setiap jengkal dan jeda kenyamanan palagan telah dirampas oleh keraguan, 

Gua..., kini ada di ajang tak berujung, medan yang telah disulut dandang jambangan, wajah dan dinding kepalsuan tak bertuan, tanah-tanah juga lumpur pun seolah mengolok, mencibir hingga menumpahkan serapah. 

Terasa masih ganjil itu wajah sang pemilik kendil, apa yang diselipkan bisa jadi bukan kepenuhan, atau belum tibakah saat tegukan caranya sebagaimana ia mengundang jurus terbaik yang konon dikisah sebagai warisan dewa pengasihnya.... 

Semakin ia memilih cara Kenceng, semakin tiada mampu lagi ia menemukan apalagi menggapai kepundan yang dicarinya, pasu itu bukan palsu, lembah itu bukan lagi embah, karena satu pun sangat punya arti buatnya. ᕙ⁠(⁠͡⁠◉⁠͜⁠⁠ʖ⁠͡⁠◉⁠)⁠ᕗ

Kamis, 11 September 2025

Meja Pengisi Cerita

Suasana meja yang terisi penuh menu, selengkap jumlah selera para penghuni yang akan siap pada makan malam. Kini bukan giliran mendengarkan para anggota keluarga pemesan, namun bagaimana suara makanan yang juga punya cerita masing-masing.

Donat yang berada di atas piring berwarna paling cerah, bersuara pertama dan paling lantang, "Sepertinya aku yang paling beruntung, ada di atas piring paling cantik, jarang ada di meja ini, juga disiapkan buat tamu di rumah ini!" lengkap kepuasannya menyambut keponakan terkecil tuan besar yang sangat tahu seleranya.

Susi adalah kesukaan anak gadis remaja, putri kedua, bercerita dengan nada lembut, "Meski aku kecil, aku ini spesial, lho. Aku datang dari jauh, diolah dengan cermat. Lihat saja, aku ini punya banyak variasi rasa, dari gurihnya udang sampai segarnya alpukat. Aku juga paling fotogenik, sering banget diposting di Instagram!"

Ayam goreng sambal matah kesukaan putra pertama tidak kalah sautannya, "Biar aku ini cuma ayam, tapi rasaku nampol! Sambal matahku itu juara, pedasnya bikin ketagihan. Aku ini andalan kalau lagi lapar berat, enggak cuma buat difoto-foto. Pokoknya, aku ini makanan para pemberani yang suka tantangan!"


Makanan Juga Punya Cerita

Kesukaan anak ketiga adalah spaghetti carbonara. Dia berbisik dengan anggun, "Aku memang enggak se-pedas ayam sambal matah atau se-populer donat. Tapi aku ini romantis. Aku sering dihidangkan saat makan malam spesial, krim dan keju yang menyatu, menciptakan kehangatan. Aku ini lambang kenyamanan yang pas buat hati."

Gado-gado kesukaan mama pun ikut bicara dengan suara bijak, "Aku ini bukan cuma soal rasa, tapi juga soal keseimbangan. Ada sayur-sayuran, tahu, tempe, dan bumbu kacang yang menyatukan semuanya. Aku mengajarkan bahwa kebahagiaan itu datang dari kesederhanaan, dan semua elemen, sekecil apa pun, punya peran penting."


Di akhir, tidak ketinggalan sambal ikan teri di dekat petai dan bermacam lalap, diwakili sambal teri, "Kalian semua bukan teri, jadi bukan pesanan tuan besar, ya? Aku bukan teriak, cuma mau ikut ngomong doang," ucapnya santai.

Semua makanan tertawa terbahak-bahak, sampai si sambal teri hampir terjatuh dari piringnya. Donat, yang dari tadi merasa paling spesial, mendadak kaget dan bertanya, "Jadi, kenapa Tuan Besar memesanmu?"

Sambal teri menjawab dengan penuh kebijaksanaan, "Karena aku adalah penutup yang sempurna. Setelah semua hidangan lezat dan cerita kalian, aku ini yang bikin nafsu makan makin jadi. Tuan Besar bilang, makanan apa pun, kalau tidak ada aku, rasanya kurang lengkap."

Sontak semua makanan terdiam, memandang sambal teri dengan rasa hormat yang baru. Mereka akhirnya sadar, di meja makan itu, bukan hanya tentang siapa yang paling spesial atau paling sering difoto, tapi tentang kebersamaan dan peran masing-masing yang saling melengkapi.


Melihat Wajahmu